Perempuan Yang Pertama Masuk Surga

Sebuah kisah yang sangat luar biasa sekali ini saya dapatkan dari sebuah Facebook yang di BC kemudian saya salin setelah beberapa lama mendapatkannya.
Pelajaran yang sangat menarik sekali dari kisah yang di bagikan ini.
Pada saat ini mungkin jarang sekali perempuan yang berorentasi pada akhirat, atau mungkin sangat jarang sekali. Tapi justru Mungkin saja ada. Tapi yang seperti dalam kisah di bawah ini jika ada saya yakin pasti itulah sebaik - baik wanita pada zaman ini.
Kenapa demikian? 
Karena tayangan - tayangan TV pun bayak mengajarkan bukan mencari kesuksesan akhir hidup yang indah, tapi kesusesan itu di ukur dari seberapa terkenal dan banyak hartanya. Padahal bukan itu sebenarnya tujuan dari hidup ini, yaitu jauh kedepan sampai kenegeri akhirat mau tinggal di mana kelak DI SURGA atau DI NERAKA. Alloh ini ridho atau tidak dengan cara hidup kita.
Itulah sebenarnya yang harus di cari di dunia ini bukan harta yang berlimpah, bukan juga ketenaran.
Maka jika ada perempuan atau laki-laki yang orientasinya tetap seperti itu Ingsa Alloh adalah yang terbaik.

 Mungkin baru kali ini saya meuliskan tentang kisah atau cerita, sebelumnya saya menulis tentang tajwid jika ingin melihatnya dan membacanya silahkan di sini Tajwid

Berikut adalah sebuah kisah yang bisa dilakukan siapa saja baik oleh orang kaya atau orang miskin.
Begitu adilnya Alloh mengatur bagaimana cara mencapai tempat terbaik disisinya.
Bukan di ukur dari kaya, cantik, ganteng, miskin, atau pejabat atau rakyat.
Sebuah kisah perempuan masuk surga dengan cara yang sederhana, bisa dilakukan tanpa mengenal status sosial.



Suatu hari Fatimah menanyakan kepada ayahnya, tentang hal yang sangat ingin dia ketahui, dia berkata :
'' ya Rasulullah...
siapakah perempuan yang pertama kali masuk surga? ''

Rasulullah menjawab, “Wahai Fatimah,
jika engkau ingin mengetahui perempuan pertama masuk surga,
selain Ummul Mukminin, dia adalah Ummu Mutiah.”

“Siapakah Mutiah itu, ya Rasulullah?
Di manakah dia tinggal?” tanya Fatimah penasaran.
Karena tidak ada yang mengenal Mutiah .

Rasulullah menjelaskan, Ummu Mutiah yang dimaksud adalah
perempuan yang tinggal di pinggiran Kota Madinah.

Jawaban itu membuat Fatimah tercengang.
Ternyata bukan dirinya perempuan yang masuk surga pertama kali.
Padahal Fatimah sebagai putri Rasulullah, dan telah
menjalankan ibadah, amalan, serta bermuamalah dengan baik dan luar biasa.

Untuk memenuhi rasa penasaran, Fatimah berkunjung ke rumah Mutiah di pinggiran Madinah.
Dia ingin menyelidiki amalan dan ibadah apa yang dilakukan
Mutiah hingga Rasulullah menyebut namanya sebagai perempuan terhormat.

Keesokan harinya, Fatimah pamit kepada suaminya
mengunjungi kediaman Mutiah.
Dia mengajak putranya Hasan.
Setelah mengetuk pintu , memberi salam, terdengar suara dari
dalam rumah. “Siapa di luar?” tanya Mutiah.

Fatimah menjawab, “Saya Fatimah, putri Rasulullah.”

Mutiah belum mau membuka pintu, malah balik bertanya,
“Ada keperluan apa?”
Fatimah menjawab, ''ingin bersilaturahim saja. ''

Dari dalam rumah Mutiah
kembali bertanya, “Anda seorang diri atau bersama yang lain?”

“Saya bersama Hasan, putra saya,”
jawab Fatimah dengan sabar.

“Maaf, Fatimah,” kata Mutiah, “Saya belum mendapat izin dari
suami untuk menerima tamu laki-laki.”

“Tetapi Hasan anak-anak,” balas Fatimah.

“Walaupun anak-anak, dia lelaki juga. Besok saja kembali lagi
setelah saya mendapat izin dari suami saya,” timpal Mutiah.

Fatimah tidak bisa menolak. Setelah mengucapkan salam ia
bersama Hasan meninggalkan kediaman Mutiah.

Keesokan harinya, Fatimah kembali mengunjungi rumah Ummu Mutiah.
Kali ini bukan hanya Hasan yang ikut, Husein pun ingin ikut ibunya.
Tiba dikediaman Ummu Mutiah, terjadi lagi dialog dari balik pintu.
Menurut Mutiah, suaminya telah mengizinkan Hasan masuk ke rumahnya.

Sebelum pintu dibuka, Fatimah mengatakan, kali ini bukan
hanya Hasan yang ikut, melainkan bertiga bersama Husein.
Mendengar jawaban Fatimah, Mutiah urung membukakan pintu.
Mutiah menanyakan, apakah Husein seorang perempuan? Fatimah meyakinkan Mutiah bahwa, Husein cucu Rasulullah, saudaranya Hasan.

“Dia seorang anak laki-laki.” “Saya belum meminta izin kepada
suami kalau Husein mau berkunjung ke rumah ini,” kata Mutiah.
“Tapi Husein masih anak-anak,” tegas Fatimah.
“Walaupun anak-anak, Husein laki-laki juga. Maafkan Fatimah,
bagaimana kalau kembali besok, setelah saya meminta izin
kepada suami,” kata Mutiah.

Fatimah tidak bisa memaksa Mutiah. Dia bersama Hasan dan
Husein kembali pulang, namun besok berjanji untuk datang lagi.

Keesokan harinya, Mutiah menyambut kedatangan Fatimah
bersama Hasan dan Husein dengan gembira. Kali ini kehadiran
Hasan dan Husein telah mendapat izin dari suaminya.
Fatimah pun bersemangat ingin segera ‘menyelidiki’ ibadah, amalan, dan muamalah apa saja yang dilakukan perempuan pertama masuk surga ini.

Keadaan rumah Mutiah jauh dari yang dibayangkan Fatimah.
Rumahnya sangat sederhana, tanpa perabotan mewah.
Namun, semuanya tertata rapi dan bersih.
Tempat tidur beralaskan seprai putih yang harum.
Setiap sudut ruangan tampak segar dan wangi membuat penghuninya senang berlama-lama di rumah.

Hasan dan Husein pun merasa betah bermain dikediaman Ummu Mutiah.
Selama berkunjung, Fatimah tidak menemukan sesuatu yang
istimewa dilakukan Mutiah.

Namun, Ummu Mutiah kelihatan sibuk mondar-mandir
dari dapur ke ruang tamu. “Maaf Fatimah, saya tidak bisa
duduk tenang menemanimu, karena saya harus menyiapkan
makanan untuk suami,”
ungkap Mutiah yang terlihat sibuk.

Mendekati waktu makan siang semua masakan sudah tersedia. Mutiah menuangkan satu per satu makanan di wadah khusus
untuk dikirim kesuaminya yang bekerja di ladang.
Yang membuat Fatimah heran, selain makanan,
Mutiah membawa bekal sebuah cambuk.

“Apakah suamimu penggembala?” tanya Fatimah.
Menurut penuturan Mutiah, suaminya bekerja sebagai petani, bukan penggembala.

“Lalu, untuk apa cambuk tersebut?” tanya Fatimah semakin penasaran.
Mutiah menjelaskan, cambuk ini sangat penting fungsinya.
Jika suami Mutiah merasa masakan istrinya tidak enak, dia ridha cambuk yang ‘bicara’.

Mutiah akan menyerahkan cambuk kepada suaminya untuk dipukulkan ke punggungnya.
“Berarti aku tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya,” kata Mutiah.

“Apakah itu kehendak suamimu?” tanya Fatimah.
“Ini bukan kehendak suami. Ia tak pernah memintanya.
Suamiku orang yang penuh kasih sayang.
Semua ini kulakukan karena keinginanku sendiri,
agar jangan sampai menjadi istri durhaka kepada suami.”
Jawaban Mutiah menjadi jawaban atas misteri yang selama ini dicari Fatimah.

Masya Allah, demi menyenangkan suami, Mutiah rela dicambuk. “Aku hanya mencari keridhaan dari suami, karena istri yang baik adalah istri yang patuh pada suami yang baik dan suami ridha kepada istrinya,” ujar Mutiah.

“Ternyata ini rahasianya,” gumam Fatimah.
Mutiah kini balik heran,
“Maksudnya rahasia apa, Fatimah?” Fatimah menjelaskan
bahwa Rasulullah mengatakan dirinya (Ummu Mutiah)
adalah perempuan yang diperkenankan masuk surga pertama kali.
“Pantas saja kelak Mutiah menjadi perempuan pertama masuk surga.
Dia menjaga diri dan sangat tulus berbakti kepada suami,”
ujar Fatimah dalam hati.

Apa yang dilakukan Mutiah bukan simbol perbudakan suami kepada istrinya.
Melainkan cermin ketulusan, dan pengorbanan istri yang patut mendapat balasan surga.

Fatimah pun pulang ke rumah dan terus menemui ayahandanya. Beliau berkata : “Anakanda berasa sungguh sedih kerana tidak
dapat meniru dan mengamalkan tingkah laku yang ayahanda ceritakan padaku.
Pantaslah dia menjadi perempuan yang masuk surga pertama kali”

Rasulullah s.a.w tersenyum mendengar rintihan Saydatina Fatimah .
Faham dengan perasaan puterinya itu, baginda lantas berkata :
“Ananda, janganlah terlalu bersusah hati. Wanita yang
ananda temui itu ialah wanita yang bakal memimpin dan
memegang tali kerendaan tunggangan ananda ketika masuk
ke syurga. Sebab itulah dia masuk terlebih dahulu.
Karena dia yang memegang kendali singgasana yang akan kau tumpangi.”

Mendengar penjelasan itu barulah Saydatina Fatimah tersenyum kembali...

Subhanallah...
Ketahuilah setiap isteri berhak masuk surga,
syarat : patuhi suami dalam hal taqwa kepada Allah Ta'ala.

Semoga para wanitanya menjadi isteri yang patuh,
dalam naungan suami yang bertaqwa pada Allah Ta'ala,
hingga membawanya masuk bersama kedalam Surga.


Tengok juga hal menarik lainnya TIPS CANTIK ALA AISYAH


Sumber :
https://www.facebook.com/semangat.ka/posts/541467162617440

Langganan Pembahasan Terbaru:

0 Response to "Perempuan Yang Pertama Masuk Surga"

Posting Komentar